Marhaban Ya Ramadhan

Ikhwah fillah, Ramadhan, bulan suci yang mulia, telah tiba di hadapan kita. Bulan yang kehadirannya selalu di sambut dengan gembira oleh Rasul dan para sahabat-nya, dan kepergiannya merupakan kehilangan yang luar biasa bagi mereka semua

Lalu, seperti apakah kita akan menyambut bulan nan mulia ini? Bahagiakah kita? Atau justru keha-dirannya menjadikan kita berkeluh kesah?

Jawabannya adalah itu semua bergantung pada bagaimana kita memposisikan Ramadhan di hati kita, muliakah dia, biasa saja, atau bhkan bulan yang paling menyedihkan. Dan tentunya kita harapkan mulianya Ramadhanlah yang senantiasa menja-dikannya senantiasa kita anti keha-dirannya. Layaknya ketika kita kedatangan seorang tamu orang yang sangat kita cintai, pasti betapa bahagianya kita. Akan kita sambut tamu agung ini dengan gegap gempita, dengan hati yang gembira.

Ikhwah fillah, mari sambut ramadhan, dan gapai cinta-Nya.

Ada Semangat Dalam Ramadhan

Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali baju-nya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat.

Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering?” ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju,” jawab sang alim ringan sambil berlalu mening-galkan tuan rumah.

Dalam perjalanan hidup, kadang-kala kita mengalami kesalahan orien-tasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita mengingin-kan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak menda-patkan apa yang diinginkan.

Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus.”

Hal itu karena orientasinya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pem-bangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan se-mestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya.

Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah

Ramadhan. Mereka menjadikan Ra-madhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Sejarah mencatat dengan tinta emas sepak terjang mereka yang produktif. Banyak orang yang tak tahu, karena memiliki motivasi yang tinggi, umat Islam terdahulu menjadi penguasa dunia selama lebih kurang 14 abad. Lebih lama daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari Amerika yang baru berjaya di akhir abad ini.

Kejayaan Islam yang demikian lama di masa lalu tak bisa dipisahkan dari semangat nenek moyang kita untuk selalu bersemangat dan pro-duktif dalam berkarya. Beberapa contoh bisa disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al-Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perja-lanan selama satu bulan demi menda-patkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi’i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi’i) sebanyak 70 kali.

pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu Musa menjawab, ”Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang menggambar-kan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

Semangat Itu Ada di Depan Kita

Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari orientasi mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang melejitkan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

Beberapa bukti yang menunjuk-kan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah:

1. Shaum (puasa)

Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan keku-atan fisik? Itulah yang Allah latih pada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk menga-lahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita.

Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam skala kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan produktif dalam beramal. Padahal kunci motivasi itu adalah kemampuan mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum ra.yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang ber-sama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pa-sukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

2. Tarawih

Ramadhan sebagai syahrul hama-sah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih artinya sholat (di waktu malam) yang dila-kukan dengan santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih biasa dilaku-kan sepanjang malam. Dengan bacaan yang panjang dan diselingi juga dengan istirahat yang lama. Bahkan pernah dalam satu riwayat, para saha-bat melakukan sholat tarawih berja-ma’ah sampai menjelang subuh.

mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memi-liki sifat sabar dan tekun. Watak inilah yang dimiliki oleh nenek mo-yang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu.

Hal ini berbeda dengan pelak-sanaan sholat tarawih di masa kini. Di mana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan ter-gesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, se- hingga lenyap pulalah salah satu

arana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi

Ramadhan bulan pemotivasian seharusnya dimanfaatkan dengan se-baik-baiknya oleh kita semua. Sung-guh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Rama-dhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan. Sungguh, ada se-mangat dalam Ramadhan.


One thought on “Marhaban Ya Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s