Sudahkah Kamu Berjilbab ??

582464_139998619492376_1000565451_n copy

Assalamu’alaykum akhwati yang cantik nan solehah, sudahkah kamu berjilbab? J

Kali ini departemen An Nisa akan membahas tentang jilbab penting sekali nih buat para muslimah,yang ikhwan juga harus tau agar bias mengingatkan ibu, dan atau saudari-saudari nya yang lain ^^.

Jilbab? Ya, perintah wajib yang diturunkan Allah untuk para muslimah. Nah salihat, tahukah bahwa kita adalah perhiasan dunia? Seperti pada hadis yang meriwayatkan,

            “Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah” (HR. muslim).

Subhanallah, mulia sekali ya ternyata kita? Sungguh Allah Maha Pemurah atas segala rizkiNya sehingga menciptakan paras-paras cantik bagi kita semua para muslimah.

Namun sayang sekali, masih banyak muslimah diluar sana yang lupa bahwa keindahan yang kita miliki adalah sesungguhnya hanya titipan semata dari Allah SWT. Mereka lupa akan kewajiban untuk menjaga dan melindungi perhiasan ini dari mata lelaki yang bukan mahramnya, mereka lupa kewajiban untuk menutup aurat padahal Allah sudah menjelaskannya.

Surat An-Nur:31 salah satunya mengenai jilbab untuk wanita

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (An-Nur:31).

Ini adalah bukti konkrit bahwa perintah menggunakan kerudung turun dari Allah SWT dan adalah wajib hukumnya. Nah karena ini adalah kewajiban, tentu ada hukuman atau sanksi bagi yang melanggarnya, tentu dosa besar bagi kita yang mengingkarinya, naudzubillahimindzallik.

Ingin tahu bagaimana hukuman dan siksaan yang akan kita terima kelak apabila kita mengingkari kewajiban ini?

            Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis.  Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’-kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.  Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri,”kata Nabi.

*Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya. Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.

Begitulah salihat, hukuman besar dari kewajiban yang kita sepelekan. Na’udzubillahimindzallik wastaghfirullahal’adziim, semoga artikel singkat ini membuka mata hati kita untuk sesegera mungkin menutup aurat kita dan senantiasa menjaganya :’)

Ada Cahaya di Hatimu

Untitled-1

oleh : Trifhani Arlita

Senja telah datang, dengan solekan siluetnya yang menyapu langit biru. Angin sore berhembus tenang menerpa dedaunan yang berayun di pucuk-pucuk dahan. Menimbulkan desir ritmis yang menyapa kalbu, meniupkan aroma ketenangan yang merasuk jiwa. Kursi taman yang sedikit berkarat karena terkena hujan dan panas yang tak menentu, kini menjadi tempat bersandar untukku. Tempat di mana kini aku duduk untuk merehatkan sejenak persendianku yang tengah ngilu karena seharian berkutat dengan tugas-tugas yang tak kunjung terselesaikan. Jangan mengira aku kini berada di sebuah taman indah yang tertata rapi di tengah kota, dengan kursi taman yang megah dan tatanan kembang yang menawan menjajari setapak jalannya, atau mungkin tempat yang ramai dan heboh di kunjungi para remaja yang tengah memadu “cinta abu-abu”nya. Bukan, aku tidak berada di sana saat ini. Aku berada di sebuah tempat yang jarang terjamah mereka, tempat yang mana setiap saat aku kunjungi tak pernah aku melihat aktivitas berbaku syahwat bertebaran di tiap sudutnya. Ya, aku berada di sebuah taman kecil dekat masjid yang tak jauh dari sekolahku. Taman yang tertutup oleh ilalang dan hanya bunga liar yang tampak menghiasi rumput-rumput yang tak lagi terawat.
Peluh merembes dari pori tubuhku, menetes membasahi jilbab putih yang kini tengah kukenakan. Mataku kembali tertuju pada layar laptop yang kini tengah berada di pangkuanku, laptop yang menyimpan sejarah tentangku, yang kubeli dengan uang hasil kerjaku sebagai penulis lepas. Aku sudah menjalani ini sejak lama, tentunya semenjak keluargaku mengalami perosotan dalam konteks ekonomi. Tak pernah terpikir sebelumnya, aku mampu menuangkan kata demi kata menjadi rangkaian sederhana dalam lembaran cerita. Semua berawal dari cerita hati yang mengalir begitu saja, mengenai suka dan duka dalam menyusuri lorong kehidupan yang entah kapan akan berujung. Continue reading