Kematian, Rahasia Allah yang Selalu Mengintai Kita

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:

 Image

Kematian merupakan suatu proses yang pasti akan dirasakan setiap makhluk hidup. Tapi kapan kematian itu akan datang? Hanya ALLAH SWT saja yang maha mengetahuinya. Yang jelas, kematian yang dirasakan seseorang tidak sama dengan orang lain. Waktu dan penyebabnya sangat beragam, apalagi keadaan manusia setelah kematian juga bermacam-macam. Begitulah ALLAH SWT berkehendak. Semua yang menimpa manusia di saat-saat kematian, sangat tergantung dari bagaimana manusia tatkala menjalani kehidupannya di dunia.

Bagi orang yang mengalami sakaratul maut, sebelum ruhnya sampai di tenggorokan, ALLAH SWT berkenan membukakan baginya alam malakut (alamnya para malaikat). Jika seandainya lidah orang yang sedang sakaratul maut mampu berucap, niscaya ia akan berbicara tentang keberadaan para malaikat. Tetapi kebanyakan keinginan bicara dari apa yg dilihatnya pada saat itu, hanya ia simpan dalam dirinya sendiri. Lidah terasa kaku sehingga terasa sulit untuk mengucapkannya.

Malaikat tersebut menarik ruh dari ruas dan ujung jari sehingga ruh akan telepas dari jasad. Orang yang durhaka, ruhnya akan terlepas laksana panggangan yang ditarik dari benang wol yang basah. Orang tersebut menyangka perutnya penuh dengan duri, seakan-akan jiwanya dikeluarkan dari  lubang jarum, sehingga terasa sesak dan seakan-akan langit bersatu dengan bumi sedangkan ia berada di antara keduanya.

Nabi Muhammad saw., pernah bersabda, “Sungguh sakaratul maut itu lebih dahsyat dari tebasan 300 pedang”.

Maka ketika sedang terjadi proses sakaratul maut, keringat bercucuran membasahi tubuh, matanya mendelik, puncak hidungnya terasa memanjang, tulang-tulang iganya terangkat, jasadnya menegang dan warna kulitnya menguning.
Continue reading

Advertisements

Berjalan Diatas Api

Alkisah, ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam api oleh raja Namrud, Allah SWT memerintahkan api supaya menjadi digin, sehingga Nabi Ibrahim selamat. At Tarisy dalam Tafsir Majma’ul Bayan menguraikan kejadian tersebut menjadi 3 kemungkinan :
1. Allah mengganti panasnya api menjadi dingin
2. Allah membuat dinding antara api dengan Ibrahin sehingga tidak terasa panasnya
3. Karena dingin yang membeku pun bisa menyakiti Ibrahim, Allah melengkapi perintahnya kepada api agar menjadi dingin, tetap selamat bagi Nabi Ibrahim

Al Wahidi menyampaikan berita dari Anas Bin Malik bahwa malaikat Jibril yang diutus oleh Allah menyelubungi Ibrahim, dengan jubah dari syurga. Sedangakn Sayyid Qutub dalam tafsir Dzilalil Qur’an mengatakan bahwa hal itu adalah mukjizat Allah SWT secara khusus dan tidak usah dipertanyakan mengenai api yang bisa menjadi dingin, sebab tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an dan akal manusia tidak akan menjangkaunya.

Betulkah hal itu tidak bisa djelaskan secara ilmiah ? Michel Talbot dalam bukunya Mysticism and The NewPhysics menjelaskan fenomena ajaib tersebut. Pada 16 Juli 1967, Arthur paul mantan direktur Foregn Ecomomy administrating menyaksikan upasacara tradisional seorang pendeta Tamil diikuti ratusan pendiduk setempat, orangtua dan anak-anak berjalam bolak-balik diatas batu baru pijar tanpa terluka dan tidak merasa kesakitan. Sebelumnya di Surrey, Inggris pada tahun 1935, English Society for phisical research melakukan serangkain tes. Para fisikawan dan psikolog dari Ozford turut hadir menyaksikan dua orang India berjalan diatas api sepanas 500 C tanpa luka.

Ada apa gerangan ? Penjelasannya adalah api dan panas merupakan bentuk energi yang dampaknya dihasilkan akselerasi vibrasi molekul yang akseleratif. Menurut teori fisika baru, kesadaran manusia bisa mempengaruhi materi. Fisikawan Jack Sarfatti berpendapat bahwa perilaku acak partikel-partikel dalam gerak Brown dapat dipengarui oleh aktivitas manusia atas kemauannya sendiri. Kesadaran dapat menghasilkan sebuah medan biogravitasi yang dapat berinteraksi dan mengubah medan gravitasi pengendali materi. Maka, kesadaran pendeta Tamil dan orang India tadilah yang mengintervensi vibrasi molekul-molekul akselerasi dan menahan peroses nyala api yang normal. Persis seperti dalam ayat 69 Surat Al Anbiya diatas.

Subhanallah, ternyata bukan hanya Nabi Ibrahim saja yang selamat dari api. Dan memang tidak ada ayat dalam Al Qur’an melarang manusia lain mengalaminya. Fenomena alam fisika yang aneh dalam Al Qur’an jangan terlalu cepat disebut mukjizat, yang mustahil dilakukan manusia biasa, sehingga tidak usah dipikirkan. Bukankah kita harus mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an? Siapa tahu ayat-ayat tersebut adalah tantangan Allah SWT untuk diwujudkan dam ilmu pengetauan. Wallau a’lam.

percikaniman.org.

KISAH SEORANG KRISTIAN MASUK ISLAM BERKAT MEMULIAKAN ASYURA’

Alkisah disebutkan bahawa di kota Array terdapat Qadhi yang kaya-raya. Suatu hari kebetulan hari Asyura’ datanglah seorang miskin meminta sedekah. Berkatalah si miskin tadi, “Wahai tuan Qadhi, adalah saya seorang miskin yang mempunyai tanggungan keluarga. Demi kehormatan dan kemuliaan hari ini, saya meminta pertolongan daripada tuan, maka berilah saya sedekah sekadarnya berupa sepuluh keping roti, lima potong daging dan duit dua dirham.”
Qadhi menjawab, “Datanglah selepas waktu zohor!”
Selepas sembahyang zohor orang miskin itu pun datang demi memenuhi janjinya. Sayangnya si Qadhi kaya itu tidak menepati janjinya dan menyuruh si miskin datang lagi selepas sembahyang Asar. Apabila dia datang selepas waktu yang dijanjikan untuk kali keduanya itu, ternyata si Qadhi tidak memberikan apa-apa. Maka beredarlah simiskin dari rumah si Qadhi dengan penuh kecewa.
Di waktu si miskin jalan mencari-cari, ia melintas di depan seorang kristian sedang duduk-duduk di hadapan rumahnya. Kepada orang Kristian itu si miskin minta sedekah, “Tuan, demi keagungan dan kebesaran hari ini berilah saya sedekah untuk menyara keluarga saya.”
Si Kristian bertanya, “Hari apakah hari ini?”
“Hari ini hari Asyura”, kata si miskin, sambil menerangkan keutamaan dan kisah-kisah hari Asyura’. Rupanya orang Kristian itu sangat tertarik mendengar cerita si peminta sedekah dan hatinya berkenan untuk memberi sedekah.
Berkata si Kristian, “Katakan apa hajatmu padaku!”
Berkata si peminta sedekah, “Saya memerlukan sepuluh keping roti, lima ketul daging dan wang dua dirham sahaja.”
Dengan segera ia memberi si peminta sedekah semua keperluan yang dimintanya. Si peminta sedekah pun balik dengan gembira kepada keluarganya. Adapun Qadhi yang kedekut telah bermimpi di dalam tidurnya.
“Angkat kepalamu!” kata suara dalam mimpinya. Sebaik sahaja ia mengangkat kepala, tiba-tiba tersergam di hadapan matanya dua buah bangunan yang cantik. Sebuah bangunan diperbuat dari batu-bata bersalut emas dan sebuah lagi diperbuat daripada yaqut yang berkilau-kilauan warnanya. Ia bertanya, “Ya Tuhan, untuk siapa bangunan yang sangat cantik ini?”
Terdengar jawapan, “Semua bangunan ini adalah untuk kamu andaikan sahaja kamu mahu memenuhi hajat si peminta sedekah itu. Kini bangunan itu dimiliki oleh seorang Kristian.”
Apabila Qadhi bangun dari tidurnya, iapun pergi kepada Kristian yang dimaksudkan dalam mimpinya.
Qadhi bertanya kepada si Kristian, “Amal apakah gerangan yang kau buat semalam hingga kau dapat pahala dua buah bangunan yang sangat cantik?”
Orang Kristian itu pun menceritakan tentang amal yang diperbuatnya bahawa ia telah bersedekah kepada fakir miskin yang memerlukannya pada hari Asyura’ itu.
Kata Qadhi, “Juallah amal itu kepadaku dengan harga seratus ribu dirham.”
Kata si Kristian, “Ketahuilah wahai Qadhi, sesungguhnya amal baik yang diterima oleh Allah tidak dapat diperjual-belikan sekalipun dengan harga bumi serta seisinya.”
Kata Qadhi, “Mengapa anda begitu kedekut, sedangkan anda bukan seorang Islam?”
Ketika itu juga orang Kristian itu membuang tanda salibnya dan mengucapkan dua kalimah syahadat serta mengakui kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W.