Menggapai Kebahagian dengan Kemudahan

Kemudahan hidup adalah dambaan setiap orang. Baik dalam bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lainnya. Karena tabiat jiwa yang diciptakan oleh Allah memang seperti itu. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang mengehendaki kesusahan, kesulitan, kesempitan dalam hidupnya.

Meski demikian, kesusahan seringkali menghampiri. Karena Allah memang menciptakan semuanya berdampingan. Laki-laki dan perempuan, duka dan senang, baik dan buruk, mudah dan susah. Kesusahan sendiri terbagi dalam dua jenis. Ada kesusahan yang memang Dia berikan untuk menguji kualitas diri seorang hamba. Ada juga kesusahan yang timbul lantaran diri sendiri. Baik karena mempersulit ataupun meremehkan setiap yang terjadi.

Untuk jenis kesusahan yang pertama, hanya bisa diatasi ketika seseorang mengoptimalkan seluruh potensi yang dia miliki. Karena Allah tidak mungkin salah dalam menciptakan. Ketika Dia memberikan kekurangan, maka di lain kesempatan Dia juga memberikan kemudahan. Golongan ini menyadari bahwa kesusahan hidup kadang begitu besar. Namun, itu bukan alasan untuk menyerah kalah dan terus larut dalam kesusahan. Ia mungkin tidak mudah untuk diatasi, tapi perjuangan mesti diteruskan sehingga kesusahan –pada akhirnya- akan berganti dengan kemudahan.

Continue reading

Advertisements

Kematian, Rahasia Allah yang Selalu Mengintai Kita

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:

 Image

Kematian merupakan suatu proses yang pasti akan dirasakan setiap makhluk hidup. Tapi kapan kematian itu akan datang? Hanya ALLAH SWT saja yang maha mengetahuinya. Yang jelas, kematian yang dirasakan seseorang tidak sama dengan orang lain. Waktu dan penyebabnya sangat beragam, apalagi keadaan manusia setelah kematian juga bermacam-macam. Begitulah ALLAH SWT berkehendak. Semua yang menimpa manusia di saat-saat kematian, sangat tergantung dari bagaimana manusia tatkala menjalani kehidupannya di dunia.

Bagi orang yang mengalami sakaratul maut, sebelum ruhnya sampai di tenggorokan, ALLAH SWT berkenan membukakan baginya alam malakut (alamnya para malaikat). Jika seandainya lidah orang yang sedang sakaratul maut mampu berucap, niscaya ia akan berbicara tentang keberadaan para malaikat. Tetapi kebanyakan keinginan bicara dari apa yg dilihatnya pada saat itu, hanya ia simpan dalam dirinya sendiri. Lidah terasa kaku sehingga terasa sulit untuk mengucapkannya.

Malaikat tersebut menarik ruh dari ruas dan ujung jari sehingga ruh akan telepas dari jasad. Orang yang durhaka, ruhnya akan terlepas laksana panggangan yang ditarik dari benang wol yang basah. Orang tersebut menyangka perutnya penuh dengan duri, seakan-akan jiwanya dikeluarkan dari  lubang jarum, sehingga terasa sesak dan seakan-akan langit bersatu dengan bumi sedangkan ia berada di antara keduanya.

Nabi Muhammad saw., pernah bersabda, “Sungguh sakaratul maut itu lebih dahsyat dari tebasan 300 pedang”.

Maka ketika sedang terjadi proses sakaratul maut, keringat bercucuran membasahi tubuh, matanya mendelik, puncak hidungnya terasa memanjang, tulang-tulang iganya terangkat, jasadnya menegang dan warna kulitnya menguning.
Continue reading

Bercinta dengan Al Qur’an…Al Qur’an pemberi syafa’at

Ramadhan adalah bulan imarahnya cinta bersama Al Quran.

Rasulullah SAW ada bersabda mengenainya;

“Puasa dan Al Quran itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Quran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafa’at untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat. ” (HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)

Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya :

” Bacalah al- Quran kerana ia akan datang pada Hari Akhirat kelak sebagai pemberi syafaat kepada tuannya.”
( Riwayat Muslim )

Image

1. Al-Quran merupakan kalam Allah dan perlembagaan syariatnya yang kekal abadi.
Continue reading

Ada Semangat Dalam Ramadhan

Untitled-21 copy

Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali baju-nya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat.
Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering?” ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju,” jawab sang alim ringan sambil berlalu mening-galkan tuan rumah.
Dalam perjalanan hidup, kadang-kala kita mengalami kesalahan orientasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita mengingin-kan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak menda-patkan apa yang diinginkan.
Continue reading

Rahasia Sunnah Tidak Diperbolehkannya Meniup Air Yang Masih Panas

Image

Makan dan minum bagi seorang muslim sebagai sarana untuk menjaga kesehatan badannya agar dapat melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita seharusnya berusaha agar makan dan minum yang kita konsumsi sesuai aturan sehingga mendapatkan pahala dari Allah SWT. Caranya, dengan senantiasa menjaga kehalalan makanan dan minumanya serta menjaga adab-adab yang dituntunkan Islam.

Dari Abu Said Al-Khudri ra dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَن ْ النَّفْخِ فِي الشُّرْبِ فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِي الْإِنَاءِ قَالَ أَهْرِقْهَا قَالَ فَإِنِّي لَا أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ فَأَبِنْ الْقَدَحَ إِذَنْ عَنْ فِيكَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk meniup ke dalam minuman. Kemudian seorang laki-laki berkata, “Lalu bagaimana bila aku melihat kotoran di dalam bejana?” Beliau bersabda: “Kalau begitu, tumpahkanlah.” Dia berkata lagi, “Sungguh, aku tidaklah puas dengan sekali tarikan nafas.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, jauhkanlah bejana (tempat untuk minum) dari mulutmu.” (HR. At-Tirmizi no. 1887 & dinyatakan shahih oleh Al-Albani dlm 6912)
Continue reading

Manfaat Dzikir

Peranan zikir dalam kehidupan manusia ke arah untuk mengenali diri dan Allah sungguh besar dan berarti sekali. Dengan zikrullah seseorang itu dapat membersihkan hati dan dirinya yang sememangnya penuh dengan noda dan dosa. Diri (hati) manusia itu seperti perabot di dalam rumah yang senantiasa terkena hinggapan debu. Maka selalulah hrs dibersihkan, sapu dan dilap. Alat untuk menyapu, membersih dan mengelap itu ialah ZIKIR. Kalau sembahyang (solat) mencegah kemungkaran, zikir pula mendekat dan merapatkan hamba dengan Tuhannya.
Dari sekian banyaknya manfaat dalam berdzikir diantaranya dapat kita sebutkan :

  • Akan mendapat keredhaan Allah dan memperolehi ketenangan pada hati serta dapat merasakan kelazatan iman di dalam jiwa.
  • Akan menimbulkan kejernihan, kemanisan pada hati dan wajah.
  • Akan mendapat kasih sayang, kecintaan serta keampunan dari Allah serta dimurahkan rezekinya.
  • Akan dapat merasakan betapa besar, agung, hebat dan berkuasanya kerajaan Allah.
  • Akan segera mendapat pembelaan dari Allah bila seseorang itu berada di dalam kesusahan dan kedukaan.
  • Akan mendapat penghormatan dan doa dari sekalian para malaikat.
  • Akan memperolehi pohon tamar di dalam syurga kelak, semakin banyak ia berzikir maka semakin banyaklah pohon -pohon tamar itu untuknya.
  • Akan mendapat nur ( cahaya ) dari Allah dalam kehidupan di dunia ini, di alam barzakh dan juga pada titian sirat nanti.
  • Dapat membina rumah dan juga istana di dalam syurga. Bila kita berhenti berzikir maka berhentilah pembinaannya di syurga.
  • Dapat menjadi pendinding dan juga perisai dari neraka jahannam.
  • Dapat mendekatkan diri kepada Allah untuk membuka pintu masuk segala kebaikan.
  • Dapat menghalau dan mematahkan gangguan syaitan terhadap dirinya.
  • Dapat menghilangkan perasaan runsing yang bersarang di dalam hatinya.
  • Dapat membersihkan hatinya daripada segala jenis kotoran dan juga penyakit.
  • Dapat menjauhkan dirinya dari segala jenis ketakutan dan kebimbangan.
  • Dapat menghapuskan dosa-dosa kecil serta maksiat kecil .
  • Dapat melepaskan seseorang yang berzikir itu dari sifat munafik.
  • Bila seseorang itu menyertai majlis zikir maka sebenarnya ia telah menyertai majlis yang dihadiri oleh para malaikat.
  • Akan sentiasa diingati oleh Allah seperti dalam firman-Nya, “ingatlah kamu kepadaKu maka Aku akan mengingatimu”.

Dari berbagai sumber

Abu Hanifah VS Ilmuwan Atheis

Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari kalangan bangsa Romawi.
Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan ulama Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya.

Dan diantara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat di depan mimbar, dia berkata : “Inilah saya, hendak bertukar fikiran dengan tuan”.
Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usianya yang masih muda.
Abu Hanifah berkata, “sekarang apa yang akan kita perdebatkan!”.

Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, dia lalu memulai pertanyaannya :

Atheis : Pada tahun berapakah Tuhan-mu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”.

Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.

Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?

Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?

Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?

Atheis : Dimanakah Tuhan-mu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu keju?

Atheis : Ya, sudah tentu.
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya keju itu sekarang?

Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu di seluruh bagian.
Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta’ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!

Atheis :Tunjukkan kepada kami zat Tuhan-mu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?

Atheis :Ya, pernah.
Abu Hanifah : Sebelum ia meninggal, sebelumnya dia bisa berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?

Atheis : Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?

Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah: Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seperti gas?

Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta’ala?!!

Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?

Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.

Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.

Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.

Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.

“Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?” tanya Atheis.
“Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah.

Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.

“Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”.
Ilmuwan kafir mengangguk.
“Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”.

Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan ilmuwan besar atheis tersebut dia mengakui kecerdikan dan keluasan ilmu yang dimiliki Abu Hanifah.

Sumber : http://www.kebunhikmah.com